Probux

Jumat, 15 Januari 2016

When i,...

"Ketika Mimpi terasa nyata, 
dan Kenyataan seperti mimpi."

Pagi dini hari. Suara tangisan membangunkanku. Malaikat kecilku haus. Dengan tergopoh aku langsung menangkapnya. Menyergapnya dalam pelukanku.

Muhammad namanya.
Semua orang yang melihat mengatakan wajah itu mirip ayahnya. Sama sekali tidak ada aku sedikitpun disana. Tapi percayalah yang melahirkannya bukan ayahnya, melainkan aku. Bundanya.

Waktu tidur yang sedikit mengingatkan aku saat sedang lembur mengerjakan document. Bangun tengah malam, buka laptop. Teruuusss,... tidur lagi.

Ketika aku menyadari menyukai ayahnya muhammad. Aku selalu berharap dialah orangnya. Dan terjawablah sudah. Walau dikata cinta sejati itu tidak ada, tapi bagiku tak mengapa kini. Toh aku tetap mempercayai hal itu ada.

Ketika aku mengucap janji setia. Pernikahan itu seperti sesuatu hal yang mustahil tapi terjadi juga akhirnya. Bahagia? Tentu saja. Siapa yang tidak bahagia menikah dengan orang yang disukainya.

Ketika aku jadi pencemburu berat, bahkan dengan sang waktu aku pun cemburu. Aku jadi agak keterlaluan. Cemburu itu satu hal yang sangat mengerikan daripada tidak punya uang. Cemburu benar benar membuat IQ ku jongkok. Hingga akhirnya aku merasa lelah harus cemburu. Hasilnya hanya sebuah pertengkaran saja. Maafkan istrimu ini suamiku.

Ketika aku untuk pertama kalinya merasa mual dan pusing karena mengandung. Aku merasa sangat bersyukur. Alhamdulillah, Aku sempurna.

Saat melahirkan adalah saat dimana aku menghitung detik demi detik. Menit ke menit. Aku hampir putus asa. Mengingat dokter spesialisku mengatakan aku tidak bisa normal. Tapi aku berharap semua berjalan normal. Aku ingin suamiku tersenyum bangga melihat aku bisa melewati saat saat sulit itu.

Aku bersyukur dia selalu mendampingiku. Saat dimana aku tidak sanggup lagi menahankan rasanya. Aku menatap wajah suamiku lekat. Wajah yang penuh kecemasan dan peluh keringat. Aku tidak ingat berapa kali aku memuntahinya. Dia khawatir tapi tetap tenang. Terimakasih suamiku untuk semua kebaikanmu.

Aku tidak mengerti kenapa?
Mengapa aku sering melukai hati suamiku.
Mengapa aku jadi keras kepala.
Mengapa aku menyalahkannya dengan prasangka ku.

Membuatnya sedih, melukai hatiku juga.
Tapi sifat buruk sangat sulit sekali berubah.
Walau aku sangat ingin menghilangkannya.

Ketika aku dihadapkan dengan hal terburuk di dunia.
Aku berharap hal buruk tidak akan pernah terjadi.
Aku hanya ingin bahagia.
Bersama keluarga kecilku.

Ketika aku, merasakan banyak hal baru dihidupku.
Menyentuh sanubariku.
Menjadikan aku lebih perasa.
Aku ingin menjadi lebih baik lagi.